Tugas kita bukanlah utk berhasil. Tugas kita adl utk mencoba, krn didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan utk berhasil

Kamis, November 27, 2008

Suara di seberang [part 1]

“Kelakuan si kucing garong, main embat main sikat, wajah beringasan…..” Ringthone phoneku tiba-tiba berbunyi, seketika membuyarkan keseriusanku saat bekerja “Hallo…..”Aku memberikan sinyal kepada seseorang di seberang sana bahwa hp sudah aku angkat. Standard dan tak berharap banyak ntuk telpon kali ini, seperti hari biasa paling dari “si dia” pikirku, yang hanya basa-basi menanyakan makan siangku, jangan lupa sholat. Pertanyaan yang slalu sama hampir setiap hari pada jam yang sama persis seperti alarm hpku di saat membangunkan aku tadi pagi. 

“mas arie ya?” aku berhenti sejenak dari kesibukan jari2 ini di papan keyboard komputerku. Ternyata bukan dari si dia, tapi siapa ya? Otakku mulai bekerja menulusuri sebuah teka-teki kecil ini, mengira-ngira, menebak-nebak, dan suara ini sepertinya aku kenal dan sangat dekat terasa. Tiba-tiba hatiku berdesir, ada kerinduan yang bergejolak. “Aneh?” Suara itu di seberang sana yang ga kalah jernih sama nyanyian ringthone hpku, penuh manja dan sedikit basah, walaupun agak memaksa dengan pengucapan hurup “R” tapi masih terdengar “L”. Tanpa kusadari hati ini terbuai dan menjelajah ke masa indah yang telah terlewat, Otakku menjelajah dan berhenti pada suatu masa 2 tahun silam bersama orang yang persis mempunyai suara ini. Masa pada waktu aku belum menyadarinya bahwa sebenarnya aku bahagia, tp keegoisanku yang menutup itu smua. 

Ini mas arie bukan?!” Suara itu terdengar lagi pelan dan penuh kehati2an. Sekali lagi suara itu membuat aku makin jauh ntuk mengenang. “Mas arie bukan seh nih?!” pengulangan pertanyaan yang agak sedikit keras akupun tersadar “eh..e..e…iya, ada apa ya?” Aku berusaha untuk tidak memvonis bahwa suara itu adalah dia. “aku anis mas, masih inget ga?” gubraks! Ternyata ga salah lagi perkiraanku akan suara itu. “Yang di saharjo itu loh, iiiiiiiih……jaad banget sih! Aaaahhhhh!!!! Seketika tubuh ini lemas tak berdaya, jantungku berdegup kencang. A

Ku tak mampu untuk beralasan kali ini, padahal dulu suara ini slalu aku permainkan, suara yang slalu aku lawan dengan kedustaan, kesombongan dan banyak alasan.”Kok diem seh?” masih dengan suara manjanya dan agak sedikit kesal. “eh..e…enggak kok nis, gi ribet aja neh” susah payah aku ntuk bersikap biasa dan berkilah, kening mulai basah dengan keringat kecil, jantung bergedup kencang. “Ohhh, masih sibuk ya? Rajinya…..dah waktu istirahat nih mas” kalimat sederhana, polos dan lugu seakan telah memaafkan apa yang telah kuperbuat waktu itu, “atau jangan2 mas arie kangen ya ma anis, gugup gitu. Hehee…” gubraks! sadarlah nis, kau telah kusakiti, atau kau ingin membalasku? Picik benar otakku ini mengira yang bukan2. ingin rasanya aku bilang "iya", tapi aku tak sanggup. Terus terang aku sangat tersiksa, aku belum siap, kenapa semua ini datang dengan tiba-tiba?!


Terpaksa dan jujur aku bilang “iya, aku kangen” ga terlintas di otakku kalimat lain selain iya, aku kangen. Kelihatan bodoh tapi aku akan kelihatan lebih ediot kalo aku diam. Suatu keputusan yang aneh, ternyata aku ini lemah, ga bisa berbuat banyak menghadapi suara itu.

0 komentar:

Poskan Komentar